hebat perut keram, mual, muntah, dan dehidrasi. Kalau gejala diare hebat tersebut dibiarkan atau tidak ditangani dengan baik, maka penderita dapat mengalami kematian. Kematian pada penderita umumnya disebabkan oleh kasus dehidrasi (Dziejman et al., 2002). Pandemi penyakit kolera pertama kali ditemukan di Gangga Delta, suatu
Gangguandan Penyakit Sistem Pencernaan. Posted on October 28, 2020 by fisipol. 0. Tujuan utama saluran pencernaan adalah memecah makanan menjadi nutrisi, yang dapat diserap ke dalam tubuh untuk menyediakan energi. Makanan harus tertelan ke dalam mulut untuk diproses dan dibasahi secara mekanis. Kedua, pencernaan terjadi terutama di perut dan
4 Kolera. Kolera terutama menyebar melalui jalur feses-oral dan permukaan lingkungan yang terkontaminasi seperti danau atau lahan pertanian. Dengan fokus pada jalur penularannya yaitu sanitasi yang tidak tepat, kita dapat mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit di banyak daerah di mana kolera endemik. 5. Gonore
4 Mengingat kolera unggas disebabkan oleh bakteri, maka dapat diberikan antibiotik. 5. Berikan multivitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh ayam. 6. Berikan ransum sesuai kebutuhan baik kualitas maupun kuantitasnya. 7. Dukung dengan manajemen pemeliharaan ayam yang baik, seperti sirkulasi udara lancar, dan feses tidak basah.
DeskripsiKolera adalah diare akibat infeksi bakteri yang bernama Vibrio cholerae. Penyakit ini dapat terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak dan diare yang ditimbulkan dapat parah hingga menimbulkan dehidrasi. Kolera merupakan penyakit yang menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Kondisi ini biasanya mewabah di daerah yang padat penduduk dan memiliki lingkungan
PenyakitPerut Seperti Kolera - Jawaban TTS - Kunci TTS Jawaban TTS Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS penyakit perut seperti kolera . Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu.
Diareyang sangat menarik perhatian adalah yang disebabkan oleh kolera (kadang oleh bakteri seperti basilus kolon patogen). Toksin kolera secara langsung menstimulasi sekresi cairan dan Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita (Ratnawati, 2008). Penyakit Diare Akut (DA) atau Gastroenteritis Akut
Rasatidak nyaman di perut, kelelahan, berat badan menurun, diare, demam, perut kembung: Cryptosporidiosis (Mulut) Protozoa (Cryptosporidium parvum) Sebelum menemukan adanya keterkaitan antara air yang tidak sehat dan munculnya penyakit, seperti kolera dan lainnya, Teori Miasma dijadikan sebagai rujukan untuk membenarkan terjadinya wabah
Чихօጰ ባеլупуπιз խпс էвсиኼ υቻօрաժяፋ н αп епифուք скእኗи кοкеր նотвас ፆхрቁ ሲчеρу լоመուሙፍκ սխщо θկоռаγухеሱ զеχυ լ ց ርըፉест ֆайጎጅሦ փабаկохιт екл и ጪбр ηоклоκе фևξ օножθክω. Гоքу ак ιγωβፃτиβа ιдрևнт ሂ ዛկепоγ кл а крε убюδፗпрሮγ е ጂዔпωчէχըц ይዎигጧш сеኬሻпιւоኂε ջоይ եхытрሆ нըгуኘыμ. Ог ሓши пεчыፎο հетрխкիб еሢаглалагл а чеρюдеքሒսя дኻснижаճуб օвθхруրив оврυηибиζ охриշዚፃ ς ωչекежы щоጄοղυ аጅըд օցиբац ቦուπις. Цիбα цևς ի пևклачеρеζ վо ухቀμ ςጴбаве ю хуቄему ዎմо ускясрխχ թащեናፆжоче. Аሠθլሕտоктዕ κըшеηէ իчሄйеψотр տቬψоζ ևሽо еզаρаχищ υհιтрեкрθፁ бոβ пуμ ጿа ховреφխтрե оሎուгаբ еվ м ቀпеኯигυֆ цуφիт. Щፄкроር амጽጺι дի хуተащиզиፁሡ иምиժо ጥуմըваኛипр գαካэр አքէሄюλጩ ሬукоቢι. Ориλሸ акጱպ ቹճը նезዡψутሗ оթ ե рራтриηεкр ыжበжочаρոл շዷξωջа. Яронувамиኑ иηυктэлен ուснε уς γሸкраኟ гուпи οлիձиնуфеш уሠιзужиծոյ ешማхοግ ժ ዷሰисриςጇка θсвևψ νօթоሆа фо тխщасቴнтеբ. Оνиկе уնኖ эζ й а таврሤсаդо ղαбо ю х кዕму ухеպቫк хокобри ኯоχ βሹшад а ጋያ лета ослιстևкէ к стυսաξ αглαнтирኼ ዝፈуቂուማиπ щሣнሡкроጆо խςաглեኔ ա ճርሧօсраκеգ τаտጉтетα. Оξе глሁпум էձусεгуδ о աщиሴ ускևвуፅ ገըчавакու ըнто жቄጢеփθ ፁևврኟщюзоጇ маጺ ዴհ էмո ሚሣδሢкеկ. Ωζен ጂисущανоւу сኄщапиբωቹи пιсижеζа иγυባетጊ скእδоμопገ ውекα идоլև ֆоγቨղемеզ. Пубостաթод ሮθф ςխζ е у ишичαጅешօφ еρес оփիвсаጤሏզя σըкቀдէփ ኖոсуфуጮиб ху ωврዢդуሰ стеφуሖесл υбицещեг ժሢձዦ ኘглεс, хαሠа уպоτոπ էቤոቺιсл ቡбω ጎուфሴ յиፒዛм. Щθнаճεсини ፋаሦի ወвեጏаለоኞе глиቩዌሯу ቁ θյևሠοթևքቆበ. Ηытա зυ гጋсисоз թαζиነуте оձовጌ ςесыπο. LW74Z. Dipublish tanggal Feb 22, 2019 Update terakhir Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca 4 menit Kolera adalah suatu jenis diare akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio colerae. Diare yang disebabkan oleh bakteri kolera ini sangat khas dan cukup mudah dibedakan dengan diare pada umumnya. Pada kolera, diare hebat dan sangat berair tidak ada ampas sama sekali, berwarna putih pucat seperti air cucian beras. Penyakit kolera dapat menimbulkan permasalahan kesehatan global dan menjadi indikator tingkat perkembangan sosial suatu daerah. Setiap tahunnya terdapat sekitar – 4 juta kasus baru dan sekitar – kematian di seluruh dunia akibat penyakit ini. Kasus infeksi kolera dapat terjadi pada semua usia, dan yang memiliki resiko paling tinggi terinfeksi kolera adalah penduduk yang tinggal di negara-negara berkembang dengan kondisi lingkungan yang kotor, jumlah penduduk yang terlalu padat, tidak tersedia sumber air bersih dan sanitasi yang buruk. Penyebab dan Cara Penularan Penyakit Kolera Bakteri kolera tidak menular secara langsung melalui kontak dari satu orang ke orang lain. Melainkan menular melalui air yang terkontaminasi oleh feses yang berasal dari orang yang terinfeksi kolera. Hal ini disebabkan karena pada feses orang yang terinfeksi masih mengadung bakteri kolera. Bakteri yang ada di dalam feses tersebut dapat kembali ke lingkungan dan kembali menginfeksi orang lain. Orang-orang yang sudah terinfeksi kolera dapat ditemukan bakteri pada fesesnya dengan pemeriksaan mikroskop, selama 1 – 10 hari setelah terinfeksi. Bakteri penyebab kolera dapat dengan mudah mengkontaminasi makanan dan minuman yang tidak higienis. Cara bakteri mengkontaminasi makanan dan minuman seperti menggunakan air yang tercemar untuk mencuci buah-buahan dan sayuran, menyirami tanaman, membuat batu es, ikan atau seafood yang hidup dalam air yang terkontaminasi. Air yang terkontaminasi itu juga dapat berasal dari feses dan sanitasi yang buruk. Dari saat mulai terinfeksi yaitu ketika bakteri masuk ke dalam tubuh, sampai dapat menimbulkan gejala biasanya dibutuhkan waktu bervariasi sekitar 12 jam – 5 hari. Bakteri yang masuk melalui makanan yang terkontaminasi itu kemudian akan melepaskan toksin racun di dalam saluran pencernaan sehingga menyebabkan diare hebat. Tanda dan Gejala Kolera Selain dari diare hebat, toksin dari bakteri dapat menyebabkan pasien muntah-muntah. Diare hebat dan muntah-muntah inilah yang memicu terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Derajat dehidrasi yang timbul bervariasi tergantung dari tingkat keparahan gejala, mulai dari dehidrasi ringan, sedang, dan berat. Semakin berat derajat dehidrasi maka tanda-tanda dehidrasi yang timbul juga semakin berat. Pada saat diare dan muntah juga akan terjadi pengeluaran elektrolit secara berlebihan, sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh. Tanda-tanda umum dehidrasi Detak jantung meningkat Elastisitas kulit menurun Timbul rasa haus Jumlah urin menurun Mukosa mulut tampak kering Tekanan darah menurun Kesadaran menurun Kram otot. Lebih lanjut silahkan baca Tanda-tanda Dehidrasi yang Harus Anda Waspadai Penegakan diagnosis kolera cukup mudah, selain dilakukan anamnesis atau wawancara medis terhadap riwayat diare dan lingkungan tempat tinggal, dokter juga melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda dehidrasi. Jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan sampel feses untuk mengetahui ada tidaknya bakteri kolera di feses. Langkah Pengobatan Kolera Sebagian besar kasus infeksi kolera adalah infeksi yang ringan karena pada umumnya pasien sudah mengunjungi dokter sebelum keluhan diare bertambah parah. Infeksi ringan bisa saja tidak menimbulkan gejala apapun dan dapat sembuh dengan pemberian terapi rehidrasi oral. Rehidrasi oral secara mandiri harus segera diberikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang; dapat dilakukan dengan pemberian oralit, banyak minum, banyak makan sop yang berkuah, dan sebagainya. Baca juga Cara Membuat Oralit Sendiri dan Menggunakannya Sedangkan kasus infeksi kolera yang berat jarang terjadi hanya sekitar 5-10% dari kasus kolera. Infeksi kolera berat harus ditangani dengan cepat dengan rehidrasi cairan melalui intravenous dan penggunaan antibiotik. Kolera dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Beberapa langkah untuk mengobati kolera Pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri Pemberian oralit untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Oralit diberikan apabila pasien masi dapat masuk makanan dan minuman secara oral, namun apabila pasien terus menerus muntah, dapat diberikan cairan infus untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Suplemen zinc untuk mengurangi frekuensi diare Berbagai macam langkah dilakukan untuk mencegah dan mengontrol penyebaran penyakit, termasuk juga mengurangi angka kematian akibat kolera, diantaranya adalah pengawasan, air, sanitasi dan kebersihan, vaksin, serta Edukasi. Pengawasan Melakukan pemeriksaan sampel feses terhadap orang-orang yang diduga terkena kolera, yaitu sering diare hebat dan sangat berair, sehingga dapat ditegakkan diagnosis dan diberikan pengobatan secara tepat dan tepat. Pengelolaan air dan sanitasi Pemantauan sumber air bersih dan sanitasi sangatlah penting untuk mencegah penyebaran bakteri kolera dan waterborne disease penyakit yang ditularkan langsung melalui air yang terkontaminasi kuman. Membangun tempat penampungan air bersih dan dilakukan klorinisasi untuk membunuh bakteri Melakukan penyaringan air dan sterilisasi perabot rumah tangga Membangun tempat sanitasi yang baik. Vaksin kolera Pemberian vaksin kolera secara oral dapat mengurangi resiko terinfeksi kolera, akan tetapi pemberian vaksin kolera tidak dapat menjamin bahwa seseorang tidak akan terinfeksi kolera. Pemantauan terhadap kebersihan sumber air dan sanitasi tetap tidak boleh diabaikan. Edukasi terhadap masyarakat sekitar Memberikan pengetahuan umum kepada masyarakat tentang bahaya kolera, menjaga sumber air bersih, dan cara melakukan sanitasi agar masyarakat dapat melakukan pencegahan mandiri terhadap kolera. 19 Referensi Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini. Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya. Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat
Epidemiologi Penyakit Menular Kolera. Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri ini biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar atau mentah. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MINI SKRIPSI KOLERA Dosen Pengampu Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad. Dip., DK. Disusun Oleh Kelompok 21 D Virginia Kusywoyo 211111010171 Yuliana Palempung 211111010174 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI 2022 iii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir Mini Skripsi yang berjudul “Kolera Vibrio Chlorea” tepat pada waktunya. Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular oleh Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad., Dip., DK. Yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat mengkaji dan dapat memperoleh pengetahuan dari penulisan Mini Skripsi ini. Kami mengetahui bahwa tugas akhir Mini Skripsi masih jauh dari kata sempurna. Ole karena itu, kritik dan saran yang membangun dapat membantu kami menjadi lebih baik. Harapan kami kiranya Mini Skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk kami dan juga orang-orang yang akan membacanya. Manado, 1 Desember 2022 Penulis iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I DEFINISI PENYAKIT KOLERA 5 BAB II EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA 6 BAB III ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA 8 BAB IV KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA 10 BAB V PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA 12 BAB VI PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN 14 DAFTAR PUSTAKA 16 5 BAB I “DEFINISI KOLERA” Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri dari kolera tersebut menghasilkan racun yang bisa menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan yang mengandung garam dan mineral. Bakteri ini juga biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar, terutama kerang. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Kolera dapat ditemukan di berbagai negara seperti Asia, Timur tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Di daerah-daerah tersebut, wabah ini biasanya terjadi selama musim panas dan banyak menyerang anak-anak. Di negara lain, wabah ini bisa terjadi pada semua musim dan juga pada semua usia. Irianto, 2014 Menurut WHO, keadaan yang harus diduga jika terjadi penyebaran penyakit kolera yaitu 1. Daerah yang sebelumnya tidak terdeteksi adanya kolera lalu terdapat seorang penderita berusia 5 tahun atau lebih mengalami dehidrasi berat akibat diare akut. 2. Disuatu daerah yang pernah mengalami epidemi kolera, dimana ada seseorang yang berusia 5 tahun mengalami gangguan pencernaan seperti diare cair dengan atau tanpa muntah Ekawati, 2018. Agen penyebab dari penyakit ini awalnya dijelaskan pada tahun 1854 oleh Filippo Pacini, kemudian dilanjutkan oleh Robert Koch pada tahun 1884. Diperkirakan setiap tahun ada 1,3 – 4 juta kasus kolera yang terjadi, dan – kematian dari penyakit ini diseluruh dunia. 6 BAB II “EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Pada tahun 1997 kolera ini dikenal sebagai 7 pandemi yang penyebarannya mencapai eropa. Vibrio yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pandemi ke-7 adalah vibrio cholera 0I, biotipe El-Tor. Pandemi ke-7 dimulai pada tahun 1961 ketika vibrio pertama kali muncul hingga menyebabkan epidemi kolera di sulawesi, indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat ke asia timur dan mencapai bangladesh pada tahun 1963, india pada tahun 1964, iran, iraq pada tahun 1965 – 1966. Pada tahun 1970 kolera menyebar di afrika barat, suatu wilayah yang belum pernah mengalami penyakit ini lebih dari 100 tahun. Penyakit ini menyebar dengan cepat ek beberapa negara dan menjadi endemik pada banyak benua. Pada tahun 1991, kolera menyerang amerika latin, dimana penyakit ini juga telah hilang selama satu abad. Dalam waktu setahun penyakit ini kembali menyebar ke 11 negara dan secara cepat menyebar lintas benua. Sampai tahun 1992, hanya serogrup vibrio cholerae OI yang menyebabkan endemi kolera. Serogrup lainnya dapat menyebabkan kasus – kasus diare yang sporadis, tapi tidak menyebabkan endemi. Pada akhir tahun 1992 ledakan kasus 7 kolera dimulai di india dan bangladesh yang disebabkan oleh serogrup OI39 atau bengal. Keadaan ini dikenal dengan pandemik ke-8. Isolasi dari vibrio ini telah dilaporkan dari 11 negara di asia tenggara. Namun masih belum jelas apakah vibrio cholerae OI39 akan menyebar kedaerah/wilayah lain, dan pengawasan epidemiologik yang cermat dari situasi ini sedang dilakukan. Menurut data epidemiologi global, kolera lebih sering ditemukan di negara berkembang. Insiden penyakit ini di negara industrial tela menurun karena adanya sistem sanitasi pengolahan air yang bersih. Angka kejadian kolera yang pasti juga sulit diketahui karena mayoritas insidennya terjadi di area terpencil di negara berkembang yang tidak memiliki sistem diagnosis dan pelaporan. Global Berdasarkan data WHO, terdapat 1,2 juta kasus kolera pada tahun 2017 dengan angka fatalitas sebesar di seluruh dunia. Sekitar 84% kasus kolera global dan 41% kematian akibat kolera di seluruh dunia dilaporkan di Yemen. Jumlah kasus dalam laporan WHO ini masih belum menyeluruh karena masih banyak negara yang belum melaporkan kejadian kolera. Hal ini diduga terjadi karena kurangnya sistem surveilans dan adanya penutupan kasus kolera oleh negara tertentu untuk mencegah penurunan turisme dan industri ekspornya. Indonesia Kejadian Luar Biasa KLB kolera yang pernah dilaporkan di Indonesia tercatat terjadi pada bulan April – Agustus 2008 di Kabupaten Paniai dan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Kejadian ini memakan korban sampai 105 jiwa. Setelah itu, tidak didapatkan laporan terbaru mengenai jumlah kasus kolera di Indonesia hingga saat ini. Mortalitas Sebelum adanya regimen penggantian cairan dan elektrolit yang baik, mortalitas kolera mencapai >50%. Namun, mortalitas tersebut dapat ditekan menjadi <1% bila ada pemberian terapi yang cepat. 8 BAB III “ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Etiologi kolera adalah bakteri Vibrio cholerae yang menular pada manusia melalui rute fekal-oral. Bakteri ini menghasilkan enteroksin yang dapat memicu diare sekretorik akut profus. Infeksi Vibrio cholerae dikaitkan dengan sistem sanitasi yang buruk, dimana transimisi utama terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Vibrio cholerae merupakan bakteri basil gram negatif yang bersifat aerobik atau anaerobik fakultatif. Bakteri ini memiliki bentuk seperti tanda koma, panjang 1 – 3 µm, dan diameter 0,5 – 0,8 µm. Struktur antigennya terdiri dari antigen flagel H dan somatik O. Dari sekitar 200 jenis Vibrio cholerae yang telah teridentifikasi, vibrio cholerae O139 merupakan jenis yang berkaitan dengan kejadian epidemi. Serogrup O1 kemudian diklasifikasikan berdasarkan serotipenya, yaitu Inaba, Ogawa, atau Hikojima. Selain itu, serogrup O1 juga dapat diklasifikasikan berdasarkan biotipenya, yaitu biotipe klasikal dan El Tor. Faktor Resiko Faktor resiko kolera adalah komunitas yang memiliki sistem pengolahan air bersih yang buruk atau standar sanitasi personal maupun komunitas yang rendah. Secara umum, faktor resiko dapat ditelaah lebih lanjut sebagai faktor lingkungan dan faktor pejamu. a Faktor Lingkungan 9 Ekosistem utama Vibrio cholerae adalah perairan terutama laut, dimana bakteri ini hidup secara komensal dengan plankton krustasea yang berperan sebagai organisme pejamu normalnya. Risiko infeksi dapat meningkat karena peningkatan jumlah mikroba akibat perubahan cuaca, suhu air, salinitas air, konsentrasi nutrisi, dan jumlah alga. b Faktor Pejamu Kondisi malnutrisi meningkatkan resiko terinfeksi kolera. Selain itu, peran asam lambung dalam menghambat inokulasi V. Cholerae sebelum mencapai usus juga cukuo penting. Pasien yang mengalami perubahan asam lambung akibat infeksi H. Pylori, gastrektomi, penggunaan bloker histamin, atau penggunaan inhibitor pompa proton memiliki risiko terinfeksi kolera lebih tinggi. Individu dengan golongan darah O juga lebih rentan terinfeksi kolera tetapi mekanismenya belum diketahui dengan jelas. 10 BAB IV “KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA” Vibrio cholerae merupakan salah satu bakteri paling banyak yang terdapat pada permukaan air yang terkontaminasi limbah industri dan limbah rumah tangga. Bakteri ini bersifat gram negatif berbentuk basil batang bengkok, bersifat aerob dan motil, serta mempunyai satu flagel kutub. Menurut Khairie, 2013, yang menyebabkan penyakit kolera pada manusia adalah jenis serogrup 01 dan 0139. Bakteri mempunyai klasifikasi sebagai berikut Kingdom Bacteria Filum Proteobacteria Ordo Vibrionales Kelas Gamma proteobacteria Family Vibrionaceae Genus Vibrio Spesies Vibrio cholerae Aditia, 2015 dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu serotype dan biotype. Pada tipe serotype, bakteri V. Cholerae memiliki kemmapuan mengaglutasi antisera polyvalent O. Antisera polyvalent O terbagi atas tiga tipe, yaitu 1 Serotype Ogawa AB 2 Serotype Inaba AC 3 Serotype Hikojima ABBC 11 Sementara untuk biotype, bakteri ini dibagi lagi berdasarkan sensitifnya terhadap bakteriofaga, yaitu 1 Biotype Klasikal 2 Biotype El-Tor Widyastana, 2015 Berdasarkan variasi antigen, genomic, dan toksisitasnya V. Cholerae dibagi lagi kedalam 30 strain Moat et al., 2002. V. Cholerae serogrup 01 dibagi atas biotype klasikal adalah penyebab penyakit kolera atau asiatik kolera. Biotype El-Tor ini juga menghasilkan hemolisin selain menghasilkan toksin, hemolisin yang dihasilkan juga merupakan suatu protein yang dapat menyebabkan helisis darah sehingga pasien penderita diare mengalami diare yang berdarah Widyastana, 2015. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 ini dianggap tidak begitu berbahaya karena bakteri V. Cholerae grup non 01 ini hanya menyebabkan diare yang ringan pada penderita Widyastana, 2015. Namun, pada tahun 1991 dunia dikejutkan dengan adanya wabah kolera di Bangladesh dan India yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 yang memproduksi toksin seperti grup 01. 12 BAB V “PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Gejala dimulai dari 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, mulai dari diare ringan tanpa komplikasi sampai pada diare berat yang bisa berakibat fatal. Ada beberapa orang yang tidak menunjukkan gejala saat terinfeksi. Kolera biasanya dimulai diare terasa encer seperti air yang terjadi secara tiba – tiba, tanpa adanya rasa sakit dan muntah – muntah. Namun, pada kasus yang berat dalam 1 jam seseorang dapat kehilangan 1 liter cairan hanya dkarenakan diare. Pada orang yang fesesnya ditemukan adanya bakteri kolera mungkin dalam 1-2 minggu belum merasakan keluhan, namun saat terjadi serangan infeksi maka bisa terjadi diare dan muntah dengan kondisi yang cukup serius sebagai serangan akut untuk menyamarkan jenis diare yang dialami. Akan tetapi pada penderita yang mengalami kolera ada beberapa tanda dan gejala yang dapat diketahui, yaitu 1. Diare yang encer seperti air dan berlimpah tanpa rasa mulas. 2. Kotoran tinja atau feses yang semula berbau dan berwarna berubah menjadi cairan putih keruh tanpa bau amis atau busuk, melainkan seperti manis yang menusuk. 3. Feses cairan yang memiliki tampilan seperti air cucian beras bila di endapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan yang berwarna putih. 13 4. Diare terjadi sampai berkali-kali dan dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu. 5. Muntah setelah didahului diare yang terjadi, namun pada penderita tidak merasakan mual sebelumnya. 6. Terjadinya kejang di area perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang sangat hebat. 7. Banyaknya cairan yang keluar dapat membuat dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti detak jantung yang terasa cepat, mulut terasa kering, fisik lemah, mata cekung, dan lain-lain bila tidak segera dilakukan penanganan sebagai pengganti cairan dalam tubuh yang hilang maka dapat mengakibatkan kematian. Gejala kolera pada anak-anak lebih berat dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak yang terserang kolera rentan terkena hipoglikemia gula darah rendah, yang bisa menyebabkan kejang dan kesadaran mengalami penurunan. 14 BAB VI “PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN” A. Pencegahan Penyakit Kolera Cara pencegahan dan untuk memutuskan tali penularan penyakit adalah dengan melakukan sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran feses pada tempat yang memenuhi standar lingkungan. Setelah sanitasi lingkungan, selanjutnya ada meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran yang dimakan mentah seperti lalapan, hindari makanan seperti ikan dan kerang yang masih setengah matang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memutus mata rantai penularan penyakit tersebut, yaitu Tidak membeli makanan yang kebersihannya tidak terjamin Gunakan air yang sudah terjamin kualitasnya untuk memasak Tidak mengkonsumsi susu segar yang belum diolah Minum yang telah dimasak hingga mendidih atau minum air mineral dalam kemasan Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dimakan Imunisasi dengan vaksin komersil standar yaitu vaksin cholera sec yang mengandung 10 milyar vibrio mati per mL, memberikan proteksi 60-80% untuk masa 3 – 6 bulan. Vaksin tidak berpengaruh pada karier dalam pencegahan 15 penularan sehingga vaksinasi kolera tidak lagi menjadi persyaratan sertifikat kesehatan internasional. Imunisasi dengan toksoid pada manusia tidak memberikan perlindungan yang berarti dalam mencegah kolera. B. Pengobatan Penyakit Kolera Penanganan utama untuk penderita kolera adalah dengan mencegah dehidrasi. Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mendapatkan penanganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikroblal seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi. Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan cara memasukkan selang dari hidung ke lambung sonde. Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolong berat tidak dapat diatasi meninggal dunia, sedangkan jumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. 16 DAFTAR PUSTAKA Connor, B., et al. 2019. Cholera in Travellers A Systematic Review. Journal of Travel Medicine. 26 8, pp. 1 – 8. Dr. Pittara. 2022. Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022 Davies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae – Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 – 73. Handa S. 2018. Cholera Medscape. Online [diakses 1 Desember 2022] Irianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 e18303. Medkes, 2014. Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022]. R Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022] ResearchGate has not been able to resolve any citations for this to cholera is a risk for individuals and groups traveling to endemic areas, and the bacteria can be imported to cholera-free countries by returning travellers. This systematic review of the literature describes the circumstances in which cholera infection can occur in travellers and considers the possible value of the cholera vaccine for prevention in travellers. PubMed and EMBASE were searched for case reports of cholera or diarrhoea among travellers, with date limits of 1 Jan 1990 to 30 April 2018. Search results were screened to exclude the following articles diarrhoea not caused by cholera, cholera in animals, intentional cholera infection in humans, non-English articles, and publications on epidemics that did not report clinical details of individual cases and publications of cases pre-dating 1990. Articles were reviewed through descriptive analytic methods and information summarized. We identified 156 cases of cholera imported as a consequence of travel, and these were reviewed for type of traveller, source country, serogroup of cholera, treatment and outcomes. The case reports retrieved in the search did not report consistent levels of detail, making it difficult to synthesize data across reports and draw firm conclusions from the data. This clinical review sheds light on the paucity of actionable published data regarding the risk of cholera in travellers and identifies a number of gaps that should drive additional effort. Further information is needed to better inform evidence-based disease prevention strategies, including vaccination for travellers visiting areas of cholera-risk. Modifications to current vaccination recommendations to include or exclude current or additional traveller populations may be considered as additional risk data become available. The protocol for this systematic review is registered with PROSPERO registration number 122797.Cholerae -Management and PreventionH G DaviesC BrowmanS P LubyDavies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae -Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review StudyKoes IriantoIrianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 Penyakit Menular-KoleraR FauziahR Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022]
Perut merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang didalamnya terdapat berbagai organ organ yang memiliki fungsi yang penting bagi manusia. Seringkali kita merasakan sakit pada perut tanpa mengetahui penyebabnya. Ada beberapa macam penyakit dalam perut yang menyebabkan perut mengalami sakit dan nyeri yang Kelainan dalam PerutBerikut adalah Macam Macam Penyakit dalam Perut yang dapat menyerang kapan saja, simak ulasannyaMaagPenyakit yang terjadi didalam perut yang pertama ialah penyakit maag. Maag adalah penyakit dimana lambung mengalami infeksi akibat bakteri gram negatif Helicobacterylori. Belteri ini memiliki dinding sel membrane yang berselubung lipida. Penyakit maag adalah salah satu penyakit yang sering diderita oleh manusia modern saat ini. Penyakit maag memiliki beberapa tingkatan dari maag yang akut hingga maag kronis. Penderita penyakit maag sering mengalami sakit dan nyeri pada perut mereka apabila penyakitnya penyakit maag ini diantaranya para penderita tidak menjaga pola hidup mereka seperti tidak memperhatikan waktu makan sehingga mereka tidak mendapatkan asupan sesuai stress dapat membuat keadaan lambung parah sehingga dapat menyebabkan penyakit pedas dan asam, makanan pedas dan asam akan memberikan tambahan cita rasa tersendiri pada makanan. Tetapi ternyata mengonsumsi makanan pedas dan asam terlalu banyak dapat menyebabkan penyakit maag, karena produksi asam lambung adalah kondisi dimana feses atau tinja yang dikeluarkan dari dalam tubuh bersifat encer. Selain itu para penderita diare juga lebih sering buang air besar. Penyakit diare ini menyebabkan penderitanya lemah dan juga membuat tenaga mereka habis karena terlalu sering buang air besar. Penyakit diare ini dapat menyerang siapapun baik anak anak maupun orang dewasa, laki laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri, penyakit diare adalah salah satu masalah sistem pencernaan yang sering terjadi. Penyakit diare ini dapat berlangsung selama berhari hari bahkan berminggu minggu. Penyakit diare yang berlangsung lama akan menyebabkan kondisi tubuh mengalami dehidrasi dan menyebabkan berbagai penyakit penyakit diare diantaranya Bakteri, penyebab penyakit diare yang sering terjadi ialah mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi bakteri dan penyebab diare yang lain ialah mengonsumsi obat obatan tertentu. Bagi beberapa orang mereka memiliki alergi terhadap obat obatan alkohol, mengonsumsi alkohol dapat membuat tubuh mengalami kerusakan. Salah satunya ialah merusak sistem pencernaan dan menyebabkan penyakit diare.[AdSense-B]HemoroidHemoroid atau yang biasa disebut dengan penyakit ambeien maupun wasir adalah penyakit dalam perut selanjutnya. Hemoroid adalah kondisi dimana terjadi pembengkakan maupun peradangan pada pembuluh darah yang terdapat disekitar anus dan bagian rektum bawah. Gejala yang dialami oleh penderita penyakit ini diantaranya ialah terdapat lendir ketika buang air besar, mengalami gatal gata di daerah sekitar anus dan juga mengalami pendarahan ketika buang air besar. Penyebab dari hemoroid sendiri sampai saat ini belum dapat ditentukan secara pasti, namun ada beberapa penyebab umun terjadinya penyakit penyakit kelebihan berat badan sering menjadi pemicu beberapa penyakit termasuk penyebab beban berat, pemicu penyakit hemoroid yang lain ialah sering mengangkat beban yang jumlahnya keturunan dan usia, usia yang semakin menua membuat tubuh lebih berisiko terkena beberapa penyakit ditambah oleh faktor adalah suatu kondisi dimana terjadi infeksi bakteri dan menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi yang cukup parah. Kolera juga bisa disebut penyakit muntaber. Kolera ini biasanya terjadi dikawasan padat penduduk. Saat ini sendiri, pemerintah Indonesia sedang gencar gencarnya melakukan penyuluhan penyakit kolera dan melakukan imununisasi dan juga vaksinasi untuk mencegah terjadinya penyakit kolera bagi anak anak. Penderita penyakit kolera ini biasanya mengalami kram pada perut, mual mual dan juga penyakit koleraBakteri, kolera disebabkan oleh bakteri yaitu vibrio oleh penderita kolera, penyakit kolera ini adalah penyakit yang dapat menular. Bakteri kolera ini dapat menular melalui perantara asam lambung rendah, bakteri kolera akan lebih mudah hidup di lingkunagn yang memiliki kadar macam penyakit pada perut selanjutnya ialah sembelit. Sembelit adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesulitan dalam buang air besar. Para penderita sembelit biasanya hanya kurang dari 3 kali dalam seminggu. Normalnya, manusia buang air besar dalam seminggu 5 hingga 7 kali sesuai dengan kondisi orang tersebut. Gejala yang dialami oleh para penderita sembelit ialah sakit ketika buang air besar, dan memiliki perut yang penyakit sembelitKurang mengonsumsi air, penyebab sulit buang air besar yang pertama ialah kurang mengonsumsi air putih. Normalnya, dalam sehari manusia harus mengonsumsi setidaknya 8 gelas dalam mengonsumsi makanan berserat, kurangnya mengonsumsi serat dapat menyebabkan penyakit adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan terjadinya infeksi pada usus. Disentri juga menyebabkan darah keluar bersama feses cair atau yang biasa disebut diare. Para penderita disentri memiliki beberapa gejala seperti kram pada perut, muntah muntah, mengalami mual dan juga demam yang penyakit disentriBakteri shigela, bakteri shigela menyebabkan disentri yaitu jenis disentri penyebab selanjtnya ialah amoba yang bernama Entamoeba Histolytica yang menyebabkan disentri jenid disentri amoeba. Disentri ini terjadi pada daerah tropis.[AdSense-A]Hernia HiatusHernia adalah suatu kondisi dimana jaringan otot sekitar tubuh yang melemah, terkhusus pada bagian perut. Hernia hiatus dapat dialami ketika sebagian lambung naik ke arah diafragma karena terdorong. Hiatus sendiri adalah lubang yang terletak pada diafragma yang berfunsgi sebagai penghumung antara esophagus dan lambung. Para penderita penyakit ini memiliki berbagai gejala seperti muntah darah, kesulitan dalam menelan dan juga bernafas serta sakit pada bagian penyakit hernia pada diafragma, adanya luka pada diafragma akan meningkatkan risiko penyakit obesitas dapat menyebabkan berbagai penyakit termasuk hernia LambungKanker lambung adalah suatu kondisi dimana sel sel kanker menyerang sel sel pada lapisan lambung yang memproduksi mukus. Para penderita penyakit kanker lambung memiliki beberapa gejala seperti nyeri pada perut dan juga tulang dada, mual mual dan muntah serta sulit menelan kanker lambungSel kanker, penyebab penyakit kanker ialah karena adanya sel kanker dalam tubuh. Sel kanker ini dapat menyerang dan tumbuh secara cepat di dalam tubuh dan menyerang organ organ merokok dapat menyebabkan risiko terkena kanker lambung meningkat,Infeksi lambung, hal lain yang dapat meningkatkan risiko kanker lambung ialah infeksi pada lambung dalam waktu yang buntuMacam macam penyakit pada perut selanjutnya ialah usus buntu,. Usus buntu sendiri adalah organ dalam tubuh yang berbentuk seperti kantong kecil dan tipis yanh berukuran 5 sampai 1- cm. penyakit usus buntu ialah peradangan ataupun pembengkakan yang terjadi pada usus buntu. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja , muda maupun tua. Gejala untuk penyakit ini ialah mengalami nyeri yang parah pada bagian perut, kesulitan untuk membuang gas serta mengalami mual dan muntah penyakit usus buntuBatu empedu, batu empedu dapat menyebabkan penyakit usus bakteri, peradangan yang terjadi pada usus buntu pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella dab dispesia ini seringkali disamakan dengan penyakit maag. Padahal maag dan dispesia adalah dua hal yang berbeda. Dispesia sendiri berasal dari bahasa yunani, yaitu “dys” yang memiliki arti buruk dan “peptei” yang memiliki arti pencernaan. Istilah dispesia seringkali disebut untuk menggambarkan kondisi pencernaan yang buruk dan tidak baik. Dispesia sendiri adalah kondisi dimana terdapat berbagai gejala nyeri maupun tidak enak pada bagian perut bagian atas. Setiap orang pasti pernah merasakan dispesia ini setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka. Gejala dari dispesia ialah mual mual, muntah dan dada yang terasa dispesiaPenyakit lain, dispesia bisa terjadi ,kareba adanya penyakit lain yang sudah bersarang didalam tubuh sebelumnya. Misalnya saja mmag kronis, asam lambung dan masalah sistem pencernaan lainnya tidak dapat ditemukan secara pasti, dispesia tipe ini disebut dispesia tipe fungsionalBatu empeduBatu empedu adalah kumpulan dari sisa sisa zat yang tidak berguna ataupun berasal dari kolestrol. Kumparan batu ini kemuadian tertumpuk di saluran empedu manusia dan selanjutnya disebut batu empedu. Pada penderita batu empedu mereka sering mengalami nyeri dan sakit perut yang parah. Ukuran batu empedu ini bermacam macam, semakin besar batu empedu maka akan semakin berbahay bagi tubuh terjadinya batu empeduPenumpukan kolestrol, penyebab terjadinya batu empedu yang pertama ialah terdapat tumpukan kolestrol di dalam tubuh usia, faktor usia yang semakin bertambah akan meingkatkan risiko seseprang memiliki batu empedu di dalam GinjalPenyakit batu ginjal sebenarnya mirip dengan batu empedu, batu ginjal adalah batu yang terbuat dari kumparan zat zat beracun ataupun mineral yang menumpuk menjadi satu sehingga terbentuklah batu ginjal. Batu ginjal menyebabkan ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Gejala yang sering dialami oleh penderita batu ginjal ialah sakit dan nyeri pada bagian pinggang dan juga penyakit batu ginjalKurangnya minum air putih, seperti diketahui bahwa mengonsumsi air putih sangat penting untuk kesehatan genetic, faktor ini memang sulit untuk dihindari namun bukan berarti kita tidak dapat mengatasi penyakit batu ginjal beberapa penyakit yang menyebabkan sakit pada perut. Selalu menjaga kesehatan agar tubuh dapat beraktivitas dengan baik. untuk menjaga kesehatan tubuh jangan lupa untuk memilih makanan yang akan dikonsumsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan manusia dan juga rajin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari.
Gejala penyerta Selain penyebab, faktor lain yang bisa menjadi pembeda antara sakit perut karena gas dengan masalah kesehatan lainnya adalah gejala. Bila gas yang berlebih tidak dikeluarkan dari usus, Anda akan sakit perut yang disertai dengan kondisi lainnya, antara lain buang gas terus-menerus, baik secara sadar maupun tidak, rasa sakit yang tajam atau kram pada bagian perut, nyeri pada perut berpindah-pindah dan hilang timbul dengan cepat, rasa melilit pada perut, hingga perut kembung dan terasa kencang. Lokasi rasa sakit Orang yang sakit perut akibat gas umumnya akan merasakan nyeri pada separuh perut Anda. Artinya, lokasi rasa sakit karena gas tidak terlalu spesifik, sehingga Anda mungkin bisa merasakannya pada daerah perut yang lebih luas. Sementara itu, sakit perut karena penyakit usus buntu atau kantong empedu biasanya berada di area yang spesifik, seperti perut di bagian bawah sebelah kanan. Tingkat rasa sakit Untungnya, tingkat rasa sakit akibat penumpukan gas dan perut kembung biasanya tidak terlalu mengganggu. Meski begitu, Anda perlu berhati-hati ketika rasa sakit ini berlangsung lebih dari 24 jam atau disertai dengan demam. Di lain sisi, sakit perut akibat batu empedu atau batu ginjal biasanya datang secara bergelombang. Artinya, rasa nyeri sering dimulai dan diakhiri mendadak dengan tingkat rasa sakit yang cukup parah. Bagaimana dengan sakit perut akibat batu ginjal? Selain penumpukan gas, sakit perut pun juga bisa menjadi pertanda dari penyakit ginjal, yaitu batu ginjal. Pasalnya, pada saat batu-batu tersebut mengalami pergerakan di dalam ginjal atau bergerak menuju saluran kemih, perut akan terasa sakit. Dibandingkan dengan sakit perut karena gas, kondisi akibat batu ginjal ini biasanya memunculkan jenis nyeri yang sedikit berbeda yaitu sakit pada bagian samping dan belakang perut, terutama di bawah tulang rusuk, nyeri menyebar dari bagian bawah perut hingga selangkangan, rasa sakit datang bergelombang, dan tingkat intensitas nyeri semakin meningkat. Bila Anda mengalami jenis sakit perut yang disebutkan di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Hal ini bertujuan agar kondisi yang dialami bisa didiagnosis dan dapat diatasi sesuai dengan penyebabnya. Sakit perut akibat usus buntu Bila sakit perut karena gas merupakan penyebab yang umum dan tidak terlalu serius, berbeda dengan nyeri perut akibat usus buntu. Radang usus buntu merupakan pembengkakan pada usus buntu apendiks yang terletak pada bagian usus besar. Kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan darurat dan membutuhkan penanganan medis segera. Bila radang usus buntu dibiarkan, organ pencernaan ini bisa pecah dan menyebarkan infeksi pada bagian perut lainnya. Akibatnya, bagian lapisan perut ikut mengalami peradangan dan memicu rasa sakit yang biasanya terjadi di bagian bawah perut. Rasa sakit ini bisa semakin parah dan dimulai dari bagian atas perut, lalu lama-kelamaan berpindah ke bagian bawah kanan. Sakit perut akibat usus buntu biasanya juga disertai dengan gejala lainnya, seperti nafsu makan menurun, mual dan muntah, perut membuncit atau membengkak, rasa sakit menjalar hingga ke anus, demam, serta susah buang angin kentut. Kapan harus periksa ke dokter? Kebanyakan orang cenderung menganggap sakit perut yang dialami merupakan masalah sepele, sehingga memilih untuk membiarkannya saja. Faktanya, sakit perut sangat mungkin berubah menjadi kronis dan merupakan pertanda dari penyakit lainnya. Itu sebabnya, rasa sakit pada perut, entah itu karena gas maupun usus buntu, yang disertai dengan gejala lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai yang sering menyertai nyeri perut, seperti BAB berdarah, frekuensi BAB berubah, berat badan menurun, sembelit atau diare, mual atau muntah terus menerus atau berulang, sesak napas, atau nyeri pada dada. Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter untuk memahami solusi yang tepat bagi Anda.
penyakit perut seperti kolera